Makanan Olahan Picu Depresi
Sebuah studi terbaru yang dilakukan para peneliti asal Inggris juga membuktikan bahwa diet (pengaturan makan) dengan mengonsumsi banyak sayuran, buah, dan ikan segar dapat mencegah terjadinya depresi. (SuaraMedia News)
Mudah, cepat, dan serbapraktis. Itulah salah satu ciri kehidupan manusia zaman sekarang. Hal tersebut juga membawa konsekuensi perubahan pola dan jenis makanan yang dikonsumsi, yang ironisnya malah memburuk. Tengoklah mereka yang hidup di kota-kota besar, saat ini sudah sedemikian akrab dengan restoran cepat saji ataupun makanan olahan yang dikategorikan junk food (makanan sampah). Kalaupun tidak makan di restoran, aneka pangan olahan siap santap dan siap masak juga banyak tersedia di supermarket.
Bahan pangan praktis tersebut dikemas sedemikian rupawan, baik dalam wujud kaleng, botol, ataupun bungkusan plastik dan kertas. Bagi mereka yang sibuk, makanan cepat saji kerap menjadi bagian dari pola konsumsi harian, baik perorangan maupun keluarga. Perubahan pola konsumsi dari makanan "utuh" ke makanan olahan cepat saji ini mengundang keprihatinan di banyak negara, terlebih kekhawatiran meningkatnya angka penyakit yang disebabkan gaya hidup seperti obesitas dan diabetes. "Pola pengaturan makan orang zaman sekarang cenderung banyak yang tidak sehat," ujar kepala eksekutif Yayasan Kesehatan Mental di Inggris, Dr Andrew McCulloch.